Rabu, 22 Januari 2020

Syeh Subakir dan Syeh Jumadil Kubro

Persebaran Islam di tanah Jawa kita ketahui bersama dalam sejarah telah mengalami pasang surut terutama pada awal abad ke-13. Hal tersebut dapat kita lihat ketika Syekh Subakir berhasil menaklukan masyarakat animisme dan dinasmisme di tanah Jawa dan kemudian kembali ke Istambul daerah asalnya.

Kembalinya Syekh Subakir ketanah kelahiranya membuat masyarakat Jawa menjadi kebingungan perihal ajaran Islam. Kemudian tidak begitu lama ketika Syekh Subakir pulang, Syekh Jumadil Kubro datang dan melanjutkan perjuangan dakwa Islam.



Syekh Jumadil Kubro adalah sosok ulama yang berasal dari Uzbekistan. Ia bersama keluarganya menyebarkan dakwah Islam di bumi Nusantara pada awal abad ke-14. Keluarganya terdiri dari kakek, anak dan cucu.

Keluarga  Syekh Jumadil Kubro adalah keluarga yang ‘alim dalam bidang agama Islam. Kakeknya, Syekh Jumadil Kubro alias Syekh Najmuddin Kubro atau Syekh Jamaluddin Akbar al-Huseini datang terlebih dahulu untuk berdakwah di Nusantara.

Kemudian, disusul putranya yang bernama Syekh Ibrahim Zainul Akbar alias Syekh Ibrahim As-Samarqandi menyusul ke Jawa setelah mengislamkan Raja Champa dan menikahi putrinya. Langkah ini diikuti oleh adiknya, Syekh Maulana Ishaq yang juga berhasil melakukan Islamisasi terbatas di Blambangan (Banyuwangi).

Baca Juga:  Sunan Ampel, Guru Para Wali Songo dalam Dakwah Islam di Pulau Jawa
Hasil pernikahan antara Syekh Ibrahim Zainul Akbar alias Syekh Ibrahim As-Samarqandi dengan putri dari kerajaan Campa melahirkan sosok ulama yang sangat karismatik dizamannya yaitu Raden Ali Rahmatullah atau biasa kita sebut dengan nama Sunan Ampel dan Ali Murtadho atau Raden Santri.

Kedua putra dari Syekh Ibrahim Zainul Akbar alias Syekh Ibrahim AsSamarqandi mengikuti jejak ayah dan kakeknya mejadi seorang pendakwah Islam di Jawa.



Dalam sebuah riwayat, Syekh Ibrahim As-Samarqandi merupakan putra dari Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini, yang dianggap sebagai peletak dasar dakwah Walisongo. Dalam versi referensi lokal, Babad Cirebon, sebagaimana dikutip Agus Sunyoto, ayah Syekh Ibrahim as-Samarkandi disebut bernama Syekh Karnen berasal dari negeri Tulen atau Saat ini pulau ini termasuk bagian dari Republik Daghestan.

Jika kita melihat buku atau kitab sejarah diatas, maka pada generasi Raden Ali Rahamatullah (Sunan Ampel) inilah yang mendominasi peran ajaran Islam dan Islamisasi di kawasan Nusantara. Peran Sunan Ampel dalam menyebarkan agama Islam tentu membutuhkan banyak tenaga.

Baca Juga:  Biografi Singkat Sayyid Abu Bakar Syatha Pengarang Ianah ath Thalibin
Oleh sebab itu, Sunan Bonang mendidik beberapa orang khususnya para pemuda untuk menjadi seorang pendakwah. Setelah dibimbing oleh Sunan Bonang maka mereka para pendakwah Islam menyebar dibeberapa daerah khususnya di Nusantara bagian Timur.

Dakwah yang dilakukan oleh Syekh Ibrahim As-Samarqandi dimulai dari wilayah pesisir. Di wilayah pesisir inilah ia membuat suatu kampung yang beragama Islam. Perkembangan dakwahnya tersebut sampai pada beberapa daerah pesisir seperti Tuban, Lamongan, Gresik hingga Surabaya.



Perkembangan Islam tersebut mengalami kemajuan, hingga pada akhirnya para wali mengajari masyarakat tentang relasi tarekat dan pesantren tidak bisa dipisahkan. Pesantren yang mempunyai arti tempat tinggal dan tarekat yaitu ajaran tasawuf atau ritus ruhaniah. Salah satu tarekat yang berasal dari daerah Uzbekistan adalah tarekat Naqsabandiyah.

Ritus ruhaniyah atau tarekat tersebut dipimpin langsung oleh seorang mursyid. Pada waktu itu, seorang mursyid kebanyakan adalah seorang ulama sekaligus pengasuh pesantren. Oleh sebab itu, relasi antara pesantren dengan dunia tasawuf tidak bisa dipisahkan.

Dengan demikian, peran sosok Syekh Jumadil Kubro dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa mulai mengalami kemajuan. Hingga pada Syekh Ibrahim As-Samarqandi dan pada puncaknya di lanjutkan dan dipimpin oleh Raden Rahmatullah atau Sunan Ampel dan munculnya wali songo.

Baca Juga:  Biografi Imam An Nasai Pengarang Kitab Sunan An Nasai
Napak tilas perjuangan Sunan Ampel dalam menyebarkan agama Islam di tanah

Minggu, 11 Oktober 2015

Cinta Romatis Adam dan Hawa

Terlempar dari surga, terpisah dengan belahan jiwa selama kurang lebih 300 tahun, dan Jabal Rahmah saksi pertemuan kisah cinta manusia pertama di muka bumi ini.
Malaikat menjadi saksi atas pernikahan manusia pertama ini. Namun karena godaan Iblis, maka keduanya terlempar ke bumi. Dan inilah cikal bakal kisah cinta penduduk bumi selanjutnya. Beragam cinta yang kemudian akan tergores. Cinta yang memang dikaruniakan oleh Yang Maha Mencintai, atau malah nafsu yang sekedar mengatasnamakan cinta. Judulnya cinta. Tentu saja kisah manusia pertama ini adalah kisah cinta sejati yang terbalut dalam sebuah kesucian.
Karena melanggar perintah Allah, maka keduanya terlempar ke bumi. Menurut Ibnu Abbas, meriwayatkan Adam diturunkan di India, dan Hawa di Jeddah. Wow..luar biasa, secara geografis mereka terlempar masih di satu benua. Benua Asia. Hanya saja yang satu terlempar di Asia Selatan, dan yang satu di Asia Barat. Keduanya tentu saja sama-sama tidak tahu. Kira-kira apa yang mereka rasakan terpisah selama kurang lebih 300 tahun? Sedih, bingung tentu saja. Bertahun-tahun mereka hidup sendirian. Keduanya tidak saling mengetahui lokasi masing-masing hingga Allah memberikan petunjuk. Namun, satu sikap Nabi Adam A.S yang patut kita teladani, selama dalam keadaan terpisah tersebut beliau selalu memohon ampunan kepada Allah. Pertaubatan dengan sebenar-benarnya taubat, hingga Allah memberikan petunjuk dan ampunan.
Tanda-tanda kebesaran Allah pun nampak, setelah beratus-ratus tahun terpisah, keduanya bertemu di sebuah padang gersang-Padang Arafah. Dan lokasi tersebut dinamakan Jabal Rahmah. Yang jadi pertanyaan, apakah keduanya tahu akan saling bertemu di tempat tersebut? adakah logika yang bisa menjelaskan bagaimana perjuangan Nabi Adam A.S ini dalam mencari tulang rusuknya yang hilang? Tidak. Tidak ada penjelasan dari berbagai sumber yang saya dapatkan. Yang pastinya keduanya tidak tahu bagaimana kisah cinta mereka selanjutnya.
Mungkin begitulah manusia sekarang (anak turun Adam-Hawa) sama sekali tidak dapat menerka dengan siapa akan bertemu dengan tulang rusuk yang hilang, kapan, dan di mana pertemuan itu akan terjadi. Teladan yang bisa diambil oleh anak turun Adam di masa kini, perbanyak istigfar dan memohon ampunan kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Sungguh kita-manusia-sama sekali tidak bisa menduga-duga bagaimana kisah cinta yang akan tergores nanti. Dan manusia sama sekali tidak bisa mengetahui di mana belahan jiwnya kini. Terpisah sekat geografis kah? antar kota, benua, samudra, atau mungkin dengan orang terdekat- sama sekali tidak tahu-. Dan pastinya, pertemuan anak turun Adam-Hawa dengan belahan jiwa masing-masing, semoga seindah dengan pertemuan moyangnya kelak. Semoga. Allahualambishowab
bahan ref:
http://puputsekar.blogspot.co.id/2013/02/adam-hawa-kisah-cinta-teromantis.html

Siti Hawa Ibu dan Istri Teladan

Image result for adam dan hawa di surga

HAWWA DI SURGA
"Hawwa" itulah nama istri Nabi pertama secara mutlak berdasarkan Al Qur`an dan hadits.

Dia adalah wanita pertama yang hidup di dunia, Ibu seluruh manusia, ia bantu suaminya dalam pembangunan Ka`bah yang mulia, ia selalu hamil kembar (laki-laki dan perempuan) agar pernikahan berlangsung di antara anak-anaknya dan agar kehidupan tetap berlangsung.

Dia adalah ibu seluruh ibu dan teladan dalam keibuan.
Kehidupan Adam dan Hawwa di surga adalah kehidupan bebas sebebas-bebasnya tanpa batas di surga, Adam mengetahui makna-makna ketentraman dan kebahagiaan ketika beliau hidup berdua dengan Hawwa, beliau tidak merasa sendirian, tidak jenuh dan menikmati apa saja yang ada di surga yang di sukai hati dan mata, Bisa jadi Adam sering ngobrol berdua dengan Hawwa dan mendengarkan tasbih segala hal dengan memuji Allah yang sangat canggih dalam mencipta.
Bisa jadi Adam dan Hawwa juga memetik buah-buahan surga, pindah dari satu pohon ke pohon lainnya, dan keduanya meminum air surga yang tawar hingga puas, Juga tidak tertutup kemungkinan Adam dan Hawwa meminum mata air kebahagiaan, hidup enak di bawah naungan surga, dan bersenang-senang dengan karunia Allah Ta`ala.
Adam dan Hawwa berada dalam perlindungan Allah Ta`ala di surga, Tidak ada Tuhan bagi keduanya selain Allah dan tidak ada pengawas selain Dia. Adam dan Hawwa memakan dengan enak apa saja yang ada di surga dan menempati tempat mana saja di surga tersebut dan terus-menerus dalam keadaan seperti itu sampai batas waktu tertentu yang dikehendaki Allah.

HAWWA DI BUMI
turunnya Adam dan Hawwa dari surga ke bumi terjadi pada hari Jum`at seperti disebutkan dlm kitab-kitab hadits nabawi.
Ketika Adam dan Hawwa dikeluarkan oleh Allah dari surga, dikarenakan mereka melanggar larangan Allah, anda tahu bahwa mereka telah berpisah dari kesejahteraan.
Di bumi, Hawwa bersama suaminya Adam alaihis salam menghadapi kesulitan, keduanya menjalani pertarungan melawan kehidupan, sebab sekarang mereka harus bersusah payah untuk bisa makan.

Di bumi, Adam diajari oleh Allah dalam pembuatan besi dan diperintah membajak sawah, beliau pun membajak sawah, bercocok tanam dan mengairinya, lalu ketika masa panen tiba beliau memanen tanamannya, menebahnya, menampinya dan menggilingnya, setelah itu tibalah giliran tugas Hawwa, yang dengan penuh kesabaran dan tanpa pernah mengeluh sedikit pun, ia mengolahnya membuatnya menjadi tepung, membuat roti, untuk mereka makan, Hawwa sering memintal wol, menenun jubah dan Adam pun sering menenun jubah serta kerudung untuk Hawwa yang kemudian mereka memakainya.

dlm perjalanan ibadah, Hawwa membantu suaminya dalam pembangunan Ka`bah dengan isyarat Ilahiyah yg tinggi. Hawwa membantu suaminya membangun rumah yg pertama kali dibangun ialah rumah yg dikhususkan untuk ibadah, dijadikan penuh berkah dan ia tdk pernah mengeluh atau berputus asa sedikitpun untuk menghadapi semua itu, ia jalani dengan penuh kesabaran dan keyakinan bahwa yang ia lakukan itu pasti kan mendapat balasan.

Hawwa adalah ibu para wanita dan laki-laki di atas permukaan bumi, Hawwa adalah ibu seperti ibu-ibu lainnya yang hamil dan melahirkan. ia selalu setia dan menjadi tempat curhat suaminya, ia selalu bermusyawarah dlm segala hal dgn suaminya, tdk pernah sekali pun membangkang perintah suaminya asalkan perintah itu tdk berpaling dari ajaran agama ilahi. ia sabar menjalani kehidupan dgn suaminya, tekun dalam beribadah, dan sabar dlm mendidik anak-anaknya.

menurut para ulama ahli Tarikh, Hawwa selalu mengandung bayi kembar, laki-laki dan perempuan, Hawwa melahirkan empat puluh anak kembar, laki dan perempuan dalam dua puluh kali kehamilan.

PERJALANAN TERAKHIR HAWWA

Image result for adam dan hawa di surga

Hari-hari terus berjalan, Adam dan Hawwa semakin tua, anak-anak keturunannya semakin banyak di muka bumi, pada suatu hari Jum`at, Adam menghembuskan nafas terakhirnya, Hawwa sangat sedih luar biasa atas kematian suaminya, dan ia hidup setahun sepeninggal Adam dan dimakamkan bersama Adam suaminya. (Ibnu Jubair menyebutkan bahwa di Jeddah terdapat tempat dimana di dalamnya terdapat kubah megah tempo dulu dan disebutkan bahwa kubah tersebut adalah rumah milik Hawwa, ibu seluruh manusia.)

itulah Hawwa, ibu seluruh manusia, ibu seluruh ibu dan panutan mereka dalam keibuan, dan seluruh pekerjaan yang sudah menjadi pekerjaan para istri, Hawwa memintal, menenun, membuat tepung, membuat roti, dan mengerjakan seluruh pekerjaan wanita dan ia taat dan tekun beribadah kpd Allah, patuh dan hormat terhadap suaminya, ia ajarkan seluruh pekerjaan tersebut kpd anak-anak putrinya, ia ajari anak-anak laki-laki bagaimana menjadi seorang suami, seorang pemimpin, yg hrs adil, dan bertanggung jawab atas istridan anak-anaknya kelak, ia lakukan semua itu agar kehidupan manusia berlanjut hingga batas waktu yang ditentukan Allah, yang hingga akhirnya Allah mewariskan bumi ini beserta isinya kpd anak-anak keturunannya.

mudah-mudahan Allah meridhai ayah kita semua (Adam) dan meridhai ibu kita semua (Hawwa) serta menempatkan keduanya di surga..

semoga bermanfaat dan kita bisa menteladaninya.

*keterangan dikutip dari buku Tarikh ISTRI-ISTRI PARA NABI. karya Ahmad khalil Jam1ah Syaikh Muhammad bin Yusuf Ad-Dimasyqi.

Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?

 

Apakah ada hadis dan riwayat yang menyebutkan bahwa Adam adalah orang kedelapan yang hidup di muka bumi? Sembari menjelaskan hal ini, tolong Anda terangkan siapa saja tujuh orang sebelum Nabi Adam itu? Apakah terdapat nabi di antara mereka? Apakah mereka adalah orang-orang pintar?


Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini.
Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia yang disebut sebagai “insan atau Nsnas” kendati kita tidak memiliki informasi yang akurat terkait dengan hal-hal detilnya,  tipologi personal dan model kehidupan mereka.

Karena itu, mungkin saja tatkala penciptaan Adam juga masih terdapat beberapa orang dari generasi sebelumnya sebagaimana sebagian ulama menyebutkan hal ini dalam menjelaskan pernikahan anak-anak Adam.

Kami tidak menjumpai teks-teks agama yang menetapkan bahwa Adam adalah manusia kedelapan di muka bumi. Benar bahwa terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa generasi Nabi Adam adalah setelah tujuh periode dan tujuh generasi semenjak penciptaan Adam. Namun boleh jadi riwayat-riwayat ini tengah menyinggung banyaknya periode-periode masa lalu.

Syaikh Shaduq dalam al-Khishâl, meriwayatkan dari Imam Baqir As yang bersabda, “Allah Swt semenjak menciptakan bumi, menciptakan tujuh alam yang di dalamnya (kemudian punah) dimana tidak satu pun dari alam-alam ini berasal dari generasi Adam Bapak Manusia dan Allah Swt senantiasa menciptakan mereka di muka bumi dan mengadakan generasi demi generasi dan alam demi alam muncul hingga akhirnya, menciptakan Adam Bapak Manusia dan keturunannya berasal darinya.

Adapun terkait dengan pertanyaan apakah mereka juga merupakan nabi atau nabi-nabi dan termasuk sebagai manusia-manusia pintar atau tidak? Kita tidak menemukan penjelasan tentang hal ini dalam ayat-ayat al-Quran dan riwayat-riwayat. Namun mengingat bahwa mereka sama dengan kita, manusia (atau Nisnas) maka dari sisi ini kita serupa dengan mereka. Dan tentu saja mereka memiliki kecerdasan dan sangat boleh jadi dapat dikatakan bahwa untuk membimbing mereka diutuslah nabi atau nabi-nabi kepada mereka.

Dengan memanfaatkan al-Quran dan riwayat-riwayat secara pasti dapat dikatakan bahwa sebelum Nabi Adam terdapa generasi atau beberapa generasi yang mirip dengan manusia  disebut sebagai “insan atau bangsa Nisnas” meski terkait dengan hal-hal detilnya,  tipologi personal dan model kehidupan mereka, kita tidak memiliki informasi yang akurat.

Allamah Thabathabai berkata, “Dalam sejarah Yahudi disebutkan bahwa usia jenis manusia semenjak diciptakan hingga kini tidak lebih dari tujuh ribu tahun lamanya...namun para ilmuan Geologi meyakini bahwa usia genus manusia lebih dari jutaan tahun lamanya. Mereka menyuguhkan sejumlah argumen untuk dari fosil-fosil yang menyebutkan bahwa terdapat peninggalan manusia-manusia pada fosil-fosil tersebut. Di samping itu, mereka juga membeberkan dalil-dalil skeleton (tengkorak) yang telah membatu milik manusia-manusia purbakala yang usianya masing-masing dari fosil dan skeleton itu ditaksir, berdasarkan kriteria-kriteria ilmiah, kira-kira lebih dari lima ratus ribu tahun. Demikian keyakinan mereka. Namun dalil-dalil yang mereka suguhkan tidak memuaskan. Tidak ada dalil yang dapat menetapkan bahwa fosil-fosil ini adalah badan yang telah membatu milik nenek moyang manusia-manusia hari ini. Demikian juga tidak ada dalil yang dapat menolak kemungkinan ini bahwa tengkorak-tengkorak yang telah membatu ini berhubungan dengan salah satu dari periode manusia-manusia yang hidup di muka bumi, karena boleh jadi demikian adanya, dan boleh jadi tidak. Artinya periode kita manusia-manusia boleh jadi tidak bersambung dengan periode-periode fosil-fosil yang telah disebutkan, bahkan boleh jadi berhubungan degan manusia-manusia yang hidup di muka bumi sebelum penciptaan Adam Bapak Manusia (Abu al-Basyar) dan kemudian punah.  Demikian juga kemunculan manusia-manusia yang kepunahannya berulang, hingga setelah beberapa periode tibalah giliran generasi manusia masa kini

Image result for adam dan hawa di surga 

 
.[1]Karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat manusia sebelum penciptaan Adam dan setelah manusia Adam ditemukan kemudian malaikat ditugaskan untuk sujud kepadanya.

[2]Hanya saja al-Quran tidak menyebutkan secara tegas tentang proses kemunculan manusia di muka bumi, apakah kemunculan jenis makhluk ini (manusia) di muka bumi terbatas hanya pada periode sekarang yang kita hidup di dalamnya, atau periode-periode yang banyak dan periode kita manusia-manusia sekarang ini merupakan periode terakhir?

Kendati mungkin sebagian ayat al-Quran menengarai bahwa sebelum penciptaan Adam As terdapat manusia-manusia yang hidup dimana para malaikat dengan ingatan pikiran mereka tentang manusia, bertanya kepada Allah Swt, “Apakah Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah”

  [3] Dimana dapat disimpulkan dari ayat ini bahwa terdapat masa yang telah berlalu sebelum penciptaan Nabi Adam. 

[4]Namun terdapat beberapa riwayat dari para Imam Ahlulbait As yang sampai kepada kita menegaskan bahwa sebelum generasi ini, terdapat generasi-generasi sebelumnya yang telah punah dan riwayat-riwayat ini menetapkan periode-periode manusia sebelum periode yang ada sekarang ini.
Sebagai contoh kami akan menyebutkan sebuah hadis berikut ini:
Penyusun Tafsir Ayyasyi meriwayatkan dari Hisyam bin Salim dan Hisyam bin Salim dari Imam Shadiq As yang bersabda, “Apabila malaikat-malaikat tidak melihat makhluk-makhluk bumi sebelumnya, yang menumpahkan darah lantas dari mana mereka dapat berkata, “Apakah Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah?” 

[5]Adapun sehubungan dengan apakah Adam merupakan manusia kedelapan di muka bumi ini harus dikatakan bahwa kami tidak menjumpai teks-teks agama yang menetapkan bahwa Adam adalah manusia kedelapan di muka bumi. Benar terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa generasi Nabi Adam setelah tujuh periode dan tujuh generasi semenjak penciptaan Adam. Namun boleh jadi riwayat-riwayat ini tengah menyinggung banyaknya periode-periode masa lalu. Misalnya Syaikh Shaduq dalam al-Khishâl, meriwayatkan dari Imam Baqir As yang bersabda, “Allah Swt semenjak menciptakan bumi, menciptakan tujuh alam yang di dalamnya (kemudian punah) dimana tidak satu pun dari alam-alam ini berasal dari generasi Adam Bapak Manusia dan Allah Swt senantiasa menciptakan mereka di muka bumi dan mengadakan generasi demi generasi dan masing-masing, alam demi alam muncul hingga akhirnya, (Allah Swt) menciptakan Adam Bapak Manusia dan keturunannya berasal darinya. 

[6]Boleh jadi riwayat-riwayat ini dengan memperhatikan riwayat-riwayat lainya yang menetapkan periode-periode yang banyak pada masa silam, tengah menyinggung tentang banyaknya periode pada masa silam; misalnya Syaikh Shaduq dalam kitab Tauhid mengutip riwayat dari Imam Shadiq As yang bersabda, “Kalian mengira bahwa Allah Swt tidak menciptakan manusia lain selain kalian. Bahkan (Allah Swt) menciptakan ribuan ribuan Adam dimana kalian adalah generasi terakhir Adam dari generasi-generasi Adam (lainnya).”

[7]Demikian juga dalam al-Khisâl diriwayatkan dari Imam Shadiq As yang bersabda, “Allah Swt menciptakan dua belas ribu alam yang masing-masing (dari dua belas ribu itu) lebih besar dari tujuh petala langit dan tujuh petala bumi. Tiada satu pun dari penghuni satu alam pernah berpikir bahwa Allah Swt menciptakan alam lainya selain alam (yang ia huni).” 

[8]Akan tetapi sebagaimana yang Anda perhatikan riwayat terakhir menyinggung tentang penciptaan alam-alam dan boleh jadi alam-alam tersebut berada di luar planet bumi dan kita dapat memandang riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang tujuh periode sebelumnya di muka bumi itu tidak bertentangan satu sama lain

Namun (dengan asumsi adanya manusia-manusia sebelum Adam) apakah tatkala penciptaan Nabi Adam As manusia dari generasi manusia-manusia sebelumnya masih tersisa?
Dengan memperhatikan beberapa indikasi bukan mustahil bahwa pada masa penciptaan Adam terdapat orang-orang dari generasi-generasi sebelumnya yang masih tersisa dan tengah mengalami kepunahan. Artinya mereka masih tetap ada (pada masa penciptaan Adam) sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama.

[9] Salah satu ulama kontemporer terkait dengan pernikahan anak-anak Adam berkata, “Di sini juga terdapat kemungkinan lain bahwa anak-anak Adam menikah dengan manusia-manusia yang tersisa dari generasi sebelum Adam karena sesuai dengan riwayat Adam bukanlah manusia pertama yang hidup di muka bumi. Penelitian ilmiah manusia hari ini menunjukkan bahwa genus manusia kemungkinan telah hidup di muka bumi semenjak beberapa juta tahun sebelumnya, padahal sejarah kemunculan Adam hingga masa sekarang ini tidak terlalu lama (kurang lebih 7000 tahun). Karena itu kita harus menerima bahwa sebelum Adam terdapat manusia-manusia lainnya yang hidup di muka bumi yang tatkala kemunculan Adam tengah mengalami kepunahan. Apa halangannnya anak-anak Adam menikah dengan manusia dari salah satu generasi sebelumnya yang masih tersisa?”

[10]Tentu saja tidak terdapat keraguan bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama dari generasi yang ada sekarang ini.
Al-Quran nampaknya menegaskan bahwa generasi yang ada sekarang ini berasal dari ayah dan ibu yang berujung pada satu ayah (bernama Adam) dan satu ibu (yang dalam beberapa riwayat dan Taurat bernama Hawa) dan kedua manusia ini adalah ayah dan ibu seluruh manusia. Demikian juga ayat-ayat berikut menyokong makna ini, “Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani).” (Qs. Al-Sajdah [32]:8); “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia) , maka jadilah dia.” (Qs. Ali Imran [3]:59); “(Ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan penciptaannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (Qs. Shad [38]:71 & 72)
Seperti yang Anda saksikan ayat-ayat yang telah dikutip memberikan kesaksian bahwa sunnah Ilahi menjamin lestarinya generasi manusia melalui pembuahan sperma namun penciptaan dengan sperma ini terjadi setelah dua orang dari jenis ini (manusia sekarang ini) diciptakan dari tanah liat dan Dia menciptakan Adam kemudian setelah Adam istrinya yang diciptakan dari tanah liat (dan setelah memiliki badan dan alat-alat reproduksi, Allah menciptakan anak-anaknya dengan menciptakan sperma pada badan Adam dan istrinya). Karena itu, tidak terdapat keraguan bahwa generasi manusia (sekarang ini) berujung pada Adam dan istrinya berdasarkan bentuk lahir ayat-ayat yang disebutkan di atas.

[11]Adapun pertanyaan berikutnya apakah di antara generasi tersebut terdapat seorang nabi? Apakah mereka juga termasuk orang-orang yang memiliki intelegensia? Kita tidak menemukan penjelasan tentang hal ini dalam ayat-ayat al-Quran dan riwayat-riwayat. Namun mengingat bahwa mereka sama dengan kita, manusia (atau Nisnas) maka dari sisi ini kita sama dengan mereka. Dan tentu saja mereka memiliki intelegensia dan kecerdasan serta sangat boleh jadi dapat dikatakan bahwa untuk membimbing mereka diutuslah nabi atau nabi-nabi kepada mereka. [iQuest]
 
 
Indeks Terkait:
Nabi-nabi Jin Sebelum Penciptaan Manusia, Pertanyaan 792 (Site: 851)
referensi dari:
http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa6471

Inilah Arti Suatu Pembelajaran

Bismillahirrahmanirrahiim

Image result for adam dan hawa di surga 

Ketika Allah mengeluarkan nabi Adam dari surga dan menurunkannya ke bumi, banyak pendapat mengatakan bahwa itu adalah hukuman yang ditetapkan Allah atas perbuatan nabi Adam yang telah melanggar larangan untuk memakan “buah terlarang” yang ada di surga. Sebelum kita menarik kesimpulan akan makna peristiwa tersebut, ada baiknya kita telaah latar belakang dan tujuan yang disampaikan Allah melalui Al Quran.

Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. Sebelum Allah menciptakan Adam, Allah telah menyampaikan rencananya di dalam Al Quran, surat Al Baqarah (2:30):
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dari dialog antara Allah dan para malaikat yang disampaikan melalui ayat di atas, ada beberapa poin yang bisa kita pelajari mengenai fitrah (sifat dasar) manusia, yaitu:
1. Manusia adalah makhluk yang cenderung ingkar pada ketentuan Allah (membuat kerusakan)
2. Manusia adalah makhluk yang cenderung untuk saling bermusuhan (menumpahkan darah)
Tetapi di ayat ini pula Allah membantah, bahwa malaikat tidak memiliki pengetahuan dibalik kehendak Allah tersebut. Artinya, terdapat potensi yang Allah berikan kepada manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan-Nya yang tidak atau belum diketahui oleh para malaikat.


Selanjutnya, di surat Al Baqarah pada ayat 31-33, Allah membuktikan ucapannya dengan memberikan pertanyaan kepada para malaikat, sebagai berikut:
Al Baqarah (2:31). “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Al Baqarah (2:32). “Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Al Baqarah (2:33). “Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Dari ketiga ayat di atas, Allah memberikan petunjuk kepada para malaikat, bahwa Nabi Adam memiliki ilmu dan pengetahuan yang tidak diberikan kepada para malaikat. Dan Allah menegaskan sekali lagi bahwa, hanya Allah yang Maha Mengetahui segala rahasia di langit dan bumi.
Kemudian Allah menciptakan Hawa sebagai istri dari nabi Adam dan menetapkan aturan yang harus dipatuhi sebagai penghuni surga.

Al Baqarah (2:35). “Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim.”
Setan (dari bangsa Jin) mengetahui kelemahan manusia dan menggoda Adam dan Hawa untuk melanggar ketentuan tersebut. Pelanggaran tersebut menyebabkan Adam dan Hawa diturunkan ke bumi.

Al Baqarah (2:36). “Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”.

Al Baqarah (2:37). Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Al Baqarah (2:38). Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka mereka bersedih hati”.

Sesuai dengan rencana yang Allah sampaikan melalui surat Al Baqarah di ayat 30 yang dikutip di atas, bahwa manusia adalah wakil Allah di muka bumi. Peristiwa larangan dan pelanggaran nabi Adam dan istrinya Hawa terhadap aturan Allah di surga adalah bagian dari proses pembelajaran yang diberikan Allah untuk mempersiapkan mereka agar dapat menjalankan tugasnya di bumi.

Kita sebagai manusia yang beriman kepada Allah dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kejadian tersebut dimana latar belakang mengapa manusia diciptakan Allah adalah semata-mata untuk mewujudkan rencana-Nya di muka bumi. Melalui perintah untuk melaksanakan shalat, Allah mengingatkan manusia, bahwa mintalah petunjuk kepada-Nya untuk dapat memenuhi fungsi manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi.

Wallahualambissawab

refrensi dari:
https://fakhrichalid.wordpress.com/2013/05/11/mengapa-nabi-adam-diturunkan-ke-bumi/

Iblis Sudah Terusir Dari Surga.... Kenapa Masih Bisa Menggoda Adam Yang Ada di Surga?

Image result for adam dan hawa di surga
 
Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina." (Al A'raaf: 13)
Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya." (Al A'raaf: 18)
Mengenai kedua ayat di atas, ada yang bertanya : “Dalam Surat Al-A'raf, ayat 13 dan 18 : SUDAH SANGAT JELAS dan SANGAT TEGAS, Allah MENGUSIR setan/Iblis dari surga, tetapi MENGAPA kok bisa setan/iblis KEMBALI MASUK SURGA dan menggoda Adam”.
Pertanyaan dari point nomor 2 (dua) diatas adalah :
1). Kok bisa Setan / Iblis yang sudah diusir Allah dari surga, DAPAT KEMBALI MASUK SURGA dengan bebas.==> Apakah Allah begitu BODOH dan LEMAH, sehingga Allah TIDAK MAMPU mengusir setan / iblis, pada saat mereka akan masuk surga kembali ?
 
2). Ataukah ini BUKTI BESAR dari kebohongan muhammad selama ini, sebab jika muhammad benar-benar menerima wahyu dari Jibril / Allah, maka sudah pasti muhammad mengetahui, kalau Setan / Iblis yang adalah PENDOSA, TIDAK MUNGKIN DAPAT MASUK KEDALAM SURGA KEMBALI, sebab Allah Yang Maha Kuasa, Sudah PASTI akan menghancurkan setan / iblis tersebut.
 
3). Kalau semua perkara diatas kita terima, maka adalah sama artinya : UMAT MUSLIM DIAJARKAN UNTUK MENUJU SURGA YANG TELAH TERNODA OLEH DOSA TERSEBUT, Surga demikiankah yang akan kita tuju ???

Jawaban
Ada beberapa riwayat yang menceritakan bagaimana Iblis yang telah terusir dari surga bisa masuk kembali ke dalam surga untuk menjerumuskan Nabi Adam 'alaihi sallam.
Diriwayatkan dari As-Suddiy dari Abi Malik dari Abi Shalih dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu -dan dari Murroh al-Hamdani dari Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu dan dari banyak sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Tatkala Allah 'Azza wa Jalla berkata kepada Adam, 'Tinggallah kamu dan isterimu di surga. 
 
Makanlah darinya yang banyak lagi baik sekehendak kamu berdua dan janganlah mendekati pohon ini sehingga kamu berdua menjadi orang yang dzalim.' Iblis berupaya untuk masuk menemui mereka berdua di surga namun terus dihalangi oleh para penjaganya. Lalu muncul seekor ular yang memiliki empat buah kaki seperti layaknya onta dan tampak sebagai hewan yang paling bagus. 
 
Iblis membujuk ular itu agar mau memasukannya ke dalam mulutnya sehingga ia membawanya bertemu dengan Adam. Ular itu pun memasukan Iblis ke dalam mulutnya kemudian melewati para penjaga surga dan berhasil masuk ke dalamnya sementara mereka tidak mengetahuinya tatkala Allah menghendaki suatu perkaranya. Iblis itu berbicara melalui mulut ular itu sementara Adam tidak memperdulikannya, 
 
maka Iblis pun keluar menemui Adam dan mengatakan, 'Wahai Adam maukah aku tunjukkan kepadamu sebuah pohon yang abadi dan kekuasaan yang tidak sirna.' Dia mengatakan lagi, 'Maukah aku tunjukkan kamu sebuah pohon apabila engkau memakan darinya maka engkau akan jadi raja seperti Allah Subhanahu wa Ta'ala atau kalian berdua akan kekal dan tidak akan mati selamanya. Iblis pun bersumpah atas nama Allah -dengan mengatakan-, 'Sesungguhnya aku hanya menasehati kalian berdua.' Sesungguhnya Iblis menginginkan dengan itu agar aurat mereka berdua tampak dengan terlepasnya pakaiannya. Iblis telah mengetahui bahwa mereka berdua memiliki aurat setelah membaca kitab Malaikat. Adam tidak mengetahui perihal ini. Adam enggan untuk memakan dari pohon itu, akan tetapi Hawa mendekati pohon itu dan memakannya kemudian dia berkata, 'Wahai Adam makanlah, sesungguhnya aku telah memakannya dan tidak terjadi apa-apa padaku.' Dan tatkala Adam memakannya maka tampaklah aurat mereka berdua dan mulailah mereka berdua menutupinya dengan daun-daun surga." (Tarikhur Rusul wal Muluk juz I hal 28).
Abdurrazaq dan Ibn Jarir meriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Sesungguhnya musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala, Iblis menawarkan dirinya kepada setiap binatang melata, agar dapat membawanya masuk ke surga dan berbicara kepada Adam dan isterinya.
 
Namun semua hewan menolak tawarannya itu. Lalu dia berkata kepada ular, 'Aku akan melindungi dirimu dari gangguan Adam dan engkau ada dalam jaminanku jika engkau memasukanku ke dalam surga.' Maka ular itu membawa Iblis di antara dua taringnya lalu masuk ke dalam surga. Tadinya ular ini berjalan dengan empat kakinya lalu Allah menjadikannya berjalan di atas perutnya."
Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, "Maka bunuhlah ular di manapun kalian mendapatkannya. Pendamlah makhluk yang pernah mendapat jaminan dari musuh Allah itu." (Luqthul Marjan fi Ahkamil Jaan, Imam Suyuthi, edisi terjemahan hal 178).
1.  Apakah dengan masuknya Iblis ke dalam surga membuktikan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala BODOH dan LEMAH karena tidak mampu mengusir Iblis yang akan kembali masuk surga?
Kembali masuknya Iblis ke dalam surga bukan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala BODOH dan LEMAH. Iblis dapat masuk surga karena memang seperti itulah yang Allah Subhanahu wa Ta'ala kehendaki. Tujuannya adalah untuk menguji Adam dan Hawa tentang larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mendekati pohon khuldi.
2.  Iblis yang pendosa tidak mungkin masuk ke dalam surga kembali, sebab Allah Yang Maha Kuasa, Sudah PASTI akan menghancurkan iblis tersebut. Apakah ini bukti besar kebohongan Muhammad?
Dalam Bibel Perjanjian Lama terdapat kisah masuknya Iblis ke dalam surga untuk menemui Tuhan guna meminta izin agar diperkenankan menggoda Ayub. Silakan anda baca ayat-ayat di bawah ini:
Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi." Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu." Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya." Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN. (Ayub 1: 8-12)   
Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi." Firman TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan." Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu." Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya." (Ayub 2: 2-6)
Jika masuknya kembali Iblis ke dalam surga di sebut oleh Agama Tertentu sebagai bukti Allah Subhanahu wa Ta'ala BODOH dan LEMAH, bagaimana dengan Tuhan yang ada dalam Bibel?
Jika masuknya kembali Iblis ke dalam surga di sebut oleh Agama Tertentu sebagai bukti BESAR kebohongan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bagaimana dengan orang yang mengarang kitab Ayub /Pengarang Bibel ?(Pasti lebih Parah Ilmunya)
3.  Kalau semua perkara diatas kita terima, maka adalah sama artinya : UMAT MUSLIM DIAJARKAN UNTUK MENUJU SURGA YANG TELAH TERNODA OLEH DOSA TERSEBUT, Surga demikiankah yang akan kita tuju ???
Jika dikatakan oleh Agama Tertentu bahwa umat Islam diajarkan untuk menuju surga yang telah ternoda oleh dosa karena masuknya kembali Iblis ke dalam surga, demikian juga surganya para Agama tersebut...karena dalam Bibel Perjanjian Lama, tepatnya dalam Ayub 1: 8-12 dan Ayub 2: 2-6, Iblis masih dapat menemui Tuhan di dalam Surga.....ckckckckckckckckckc....
 
sy ambil ref dari:
 
http://menjawabkristen.blogspot.co.id/2014/09/iblis-yang-terusir-dari-surga-kok-masih.html

Apakah Siti Hawa Yang Merayu Nabi Adam sekaligus Penyebab Terusirnya dari SURGA ?


Image result for adam dan hawa di surga 

Pertanyaan: “Apakah sejak semula Adam diciptakan untuk tinggal di muka bumi, atau untuk tinggal di surga?”
 
Jawab: Sejak semula Nabi Adam dan Hawa (manusia) telah diciptakan Tuhan untuk tinggal di bumi, bukan untuk tinggal di surga, sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah 30 yang berbunyi:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Dalam ayat di atas ungkapan “Fil Ardhy” yang artinya dalam bahasa Indonesia ialah “di muka bumi”. Dalam ayat tadi, Allah swt telah mengatakan kepada para malaikat bahwa Dia hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, dan tidak mengatakan untuk tinggal di surga. Hal itu terjadi terjadi sebelum penciptaan Nabi Adam dan Hawa, yang akhirnya para malaikat protes kepada Allah swt tentang hal itu, namun Allah swt memberikan jawaban kepada mereka bahwa Dia lebih mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh para malaikat. Perihal ini dapat anda lihat dalam lanjutan ayat di atas.

Namun, sebelum turun ke muka bumi, Allah telah menempatkan Adam dan Hawa di surga untuk ditraining dan diuji sebelum memasuki kehidupan dunia yang tentunya lebih sulit dibanding kehidupan di surga tersebut. Ujian serta training tersebut sebagai bekal mereka dalam kehidupan di muka bumi. Di sisi lain, para ahli tafsir Qur’an mengatakan bahwa surga tempat Nabi Adam dan Hawa tinggal bukanlah surga setelah kiamat. Dengan alasan;

Pertama; Surga pasca Kiamat penghuninya akan kekal di dalamnya dan tidak akan keluar darinya, sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an seperti dalam surat Fath ayat 5, al-Hadid ayat 12, al-Mujadalah ayat 22, at-Taghabun ayat 9 dan lain sebagainya. Sementara surga yang ditempati oleh Nabi Adam dan Hawa, mereka tidaklah kekal di dalamnya, buktinya akhirnya mereka keluar dari surga tersebut.

Kedua; Syetan tidak dapat masuk ke dalamnya. Sementara surga Nabi Adam dan Hawa dapat dimasuki oleh syetan yang telah menggoda mereka.

Ketiga; Surga pasca Kiamat adalah yang disediakan sebagai balasan amal manusia, artinya surga
adalah balasan untuk orang-orang yang telah berbuat baik. Namun surga Nabi Adam dan Hawa tidak seperti itu, sebelum mereka beramal (taklif) telah dimasukan ke dalam surga.
Keempat; Surga di akherat kelak bersifat bebas mutlak untuk para penghuninya. Dalam arti, tidak ada larangan sedikitpun, berbeda dengan surga Adam-Hawa dimana mereka dilarang untuk memakan buah Khuldi yang ada di surga tersebut.

Setelah menyelesaikan prolog di atas, marilah kita memasuki pembahasan pokok yaitu menjawab sebuah pertanyaan: “Apakah benar Hawa penyebab turunnya Adam dari surga?” dengan mengadakan study komparatif antara Al-Qur’an dan Perjanjian Lama .

Apabila kita merujuk ke kitab suci Al-Qur’an maka jawabannya ialah negative. Terdapat dalam beberapa surat yang telah menjelaskan penciptaan Nabi Adam dan Hawa dalam al-Qur’an, seperti dalam surat al-Baqarah dari ayat 34-38, an-Nisa ayat 1, al-A’raf, 19-24 dan Thoha ayat 115-122. Namun yang telah menjelaskan secara terperinci ialah terdapat dalam surat al-A’raf. Dimana dalam surat tersebut telah dijelaskan pula sebab terusirnya Nabi Adam dan Hawa dari surga. Dalam surat tersebut telah dijelaskan pula bahwa sumpah palsu syetan yang menyebabkan mereka dikeluarkan dari surga. Allah swt telah menegur kedua-duanya (Nabi Adam dan Hawa) atas perlakuannya. Mari kita perhatikan kandungan ayat-ayat berikut ini, apakah dapat diambil kesimpulan bahwa Hawa sebagai penyebab turunnya Adam dari surga?:

“(dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarang kalian dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”(al-A’raf 19-22)
Berdasarkan ayat di atas, sumpah palsu syetan dengan mengatakan kepada Adama dan Hawa bahwa sebab pelarangan Tuhan untuk memakan buah tersebut ialah, karena Tuhan tidak ingin mereka menjadi malaikat dan kekal di dalamnya. Tidak cukup di situ, bahkan syetan pun telah bersumpah dengan mengatakan bahwa ia melakukan hal itu karena demi kebaikan mereka berdua. Silahkan kembali cermati secara seksama ayat di atas!

Lebih jelas lagi terdapat dalam surat Thoha ayat 117-121 yang berbunyi:
“Maka Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya Ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, Maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan Sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?“. Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya Maka dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.

Keterangan; Yang dimaksud dengan durhaka di sini ialah melanggar larangan Allah Karena lupa dan dengan tidak sengaja, sebagaimana disebutkan dalam ayat 115 surat ini. Dan yang dimaksud dengan sesat ialah mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. Kesalahan Adam a.s meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat, Karena tingginya martabat Nabi Adam a.s. dan untuk menjadi teladan bagi orang besar dan pemimpin-pemimpin agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang Bagaimanapun kecilnya.

Mari kita bandingkan ayat di atas dengan yang terdapat dalam kitab perjanjian lama (Taurat) yang sudah terjadi banyak penyelewengan berkaitan dengan isinya, niscaya akan kita dapati bahwa jawabannya adalah positif, Hawa-lah penyebab terusirkannya Nabi Adam dari surga. Dalam kitab perjanjian lama dalam ‘bab penciptaan Adam dan Hawa’ telah dijelaskan bahwa Hawa sebagai penyebab diturunkannya Adam dari surga. Bahkan Tuhan menegur Adam kenapa mengikuti ucapan istrinya untuk memakan buah terlarang. Dengan kata lain, Hawa yang telah menyebabkan Nabi Adam melakukan kesalahan. Saya dapatkan hal ini dari terjemahan (edisi Arab dan juga edisi Persia) Perjanjian Lama.

Namun saya yakin, edisi terjemahan kitab tersebut dapat dipertanggungjawabkan karena merupakan terjemahan resmi. Dan insyaAllah pemahaman saya dari terjemahan tersebut tidak akan melenceng dari isinya. Kurang lebih isinya seperti ini:
“Telah berkata ular kepada wanita (Hawa): “Kenapa telah memerintahkan Tuhan kalian untuk tidak memakan semua (buah) pepohonan surga? Lantas wanita (Hawa) tersebut menjawab pertanyaan ular; “Kami memakan buah-buahan pepohonan yang ada di surga. Namun dari buah pohon yang ada di tengah surga, Tuhan telah melarang kami untuk memakannya, dan kami tidak boleh mendekatiya karena kami akan mati. Ular berkata; “Kalian berdua tidak akan mati. Karena sesungguhnya Tuhan mengetahui bahwasanya setiap saat kalian memakan dari buah pohon itu, maka mata kalian akan terbuka dan kalian akan menjadi seperti Tuhan, akan mengetahui kebaikan dan kejahatan. Wanita (Hawa) melihat buah pohon tersebut baik untuk dimakan dan enak dipandang. Maka ia mengambil dari buah pohon tersebut dan memakannya, ia memberikan buah pohon tersebut kepada suaminya (Adam), dan iapun (Adam) memakannya. Maka terbukalah mata mereka, dan ketika mereka mengetahui dalam keadaan telanjang maka mereka menyambungkan dedaunan dari pohon tin dan mereka membuat sarung untuk mereka berdua. Di saat itu terdengarlah suara Tuhan yang sedang berjalan di surga ketika mendekati sepoi-sepoi angin setelah zuhur. Maka bersembunyilah Adam dan Hawa dari wajah Tuhan di antara pepohonan surga. Lantas Tuhan memanggil Adam seraya berkata: “Dimana engkau? Adam menjawab: “Aku mendengar suara-Mu di surga, maka aku takut karena aku dalam keadaan telanjang , karena aku malu (telanjang) maka aku sembunyi. Tuhan berkata kepadanya (Adam): “Siapa yang telah memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang? Apakah engaku telah memakan buah yang telah Aku larang untuk tidak memakan darinya? Adam menjawab: “Tuhanku, wanita (Hawa) ini yang telah Engkau jadikan teman untukku yang telah memberikan buah dari pohon itu kepadaku lalu aku memakannya. 

Kemudian Tuhan berkata kepada wanita (Hawa): “Kenapa engkau melakukan hal ini?. Wanita (Hawa) menjawab: “Ular itu yang telah menipuku, lalu aku memakannya.” Kemudian Tuhan berkata kepada Ular: “Karena engkau telah melakukan hal ini, maka akan terlaknatlah (terusir) engkau dari seluruh binatang dan semua binatang melata. Engkau akan berjalan pada dadamu dan engkau akan makan tanah selama hidupmu…kemudian Tuhanpun berkata kepada wanita (Hawa): “Akan kuperbanyak rasa sakitmu, dan kehamilanmu, engkau akan melahirkan anak dengan rasa sakit dan engkau akan berada di bawah kekuasaan laki-laki (di bawah perintah laki-laki), serta ia akan menguasaimu. Dan berkata Tuhan kepada Adam: “Karena engkau telah menuruti ucapan istrimu, dan engkau telah memakan buah dari pohon yang telah aku larang untuk memakan darinya, maka setelah itu bumi terlaknat dalam pekerjaanmu, dengan susah payah engkau akan makan darinya pada seluruh hari-hari kehidupanmu…lantas Tuhan mengeluarkan Adam dari surga… ” .
 Image result for adam dan hawa di surga

Silahkan bandingkan dengan surat Thaha dari kitab suci al-Qur’an di atas! Dimana syetan telah menggoda dan membisikan kepada Adam secara langsung (yang ditulis tebal). Namun dalam Perjanjian Lama, ular (syetan) pertama menggoda Hawa, kemudian Hawa membujuk Nabi Adam untuk memakan buah khuldi yang akhirnya Adam ditegur oleh Tuhan karena telah menuruti dan tergoda ucapan istrinya yang akhirnya menyebabkan ia terusir dari surga. Namun dalam al-Qur’an kedua-duanya telah ditegur oleh Allah swt, karena baik Nabi Adam maupun Hawa telah tergoda oleh sumpah palsu syetan. Lihat dalam al-Qur’an sejak semula syetan telah menggoda Adam dan Hawa dengan mengatakan ‘kalian berdua’ (karena dalam ayat tersebut menggunakan ‘dhamir mutsana’, yaitu kata ganti orang yang menunjukkan dua orang) ), bukan syetan hanya menggoda kepada Hawa, lalu Hawa menggoda Nabi Adam:

“Tuhan kamu tidak melarang kalian dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua”. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. (al-A’raf 19-21)


Kesimpulan:

· Dalam al-Qur’an Hawa bukanlah penyebab Nabi Adam as terusir dari surga, akan tetapi sejak semula Nabi Adam as pun sebagaimana Hawa telah tertipu oleh sumpah palsu syetan.

· Sumpah palsu ialah; pertama, syetan telah bersumpah bahwa tidaklah Allah swt telah melarang Nabi Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi melainkan karena Dia tidak ingin mereka kekal seperti para malaikat. Kedua, syetan bersumpah bahwa ia melakukan hal ini hanyalah demi kebaikan mereka berdua.

· Karena kedua-duanya telah bersalah maka Allah swt menegur kedua-duanya.

· Namun dalam kitab Perjanjian Lama, pertama syetan (yang dalam kitab tesebut disebut ular) menipu Hawa, kemudian Hawa menggoda Nabi Adam untuk memakan buah khuldi.

· Oleh karena itu, setelah Tuhan mengetahui pelanggaran atas pelarangannya, pertama Tuhan menegur Adam. Sewaktu Tuhan menegur Nabi Adam karena kesalahannya, Nabi Adam mengatakan bahwa perempuan yang Engkau ciptakan untuk jadi temanku (Hawa) yang telah membujukku untuk memakannya. Jadi, secara tidak langsung Hawa sebagai penyebab ia berbuat salah dan akhirnya terusir dari surga.

· Setelah itu, kemudian Tuhan menegur Hawa, kenapa telah menggoda Adam untuk memakan buah terlarang?

· Oleh karena itu, secara tidak langsung menurut kitab Perjanjian Lama Hawa sebagai penyebab terusirnya Nabi Adam dari surga, sebagaimana yang selalu kita dengar selama ini.

Sumber:
Al-Qur’an
Perjanjian Lama (Taurat) edisi bahasa Arab.
TafsirMizan karya Allamah Thabathabai’
TafsirTasnim, karya Ayatullah jawadi Amuli
TafsirNemuneh, Ayatullah Makarim Syirazi

Catatan:

· Kenapa Hawa dinamakan Hawa? Karena ia merupakan ibu para Makhluk hidup (maksudnya manusia). Karena Hawa berasal dari akar kata ‘Hayun’ yang artinya hidup.

· Adam dinamakan Adam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq ia berasal dari akar kata: ‘Adim’ yang artinya bagian permukaan tanah.

Bagi yang dapat memahami bahasa Arab dapat langsung merujuk sendiri kepada 2 sumber (al-Quran dan Perjanjian lama edisi Arab) tersebut. Sebenarnya saya ingin sekali melihat kitab aslinya yang berbahasa Ibrani, namun percuma saja, karena saya sendiri tidak bisa memahami bahasa Ibrani. Saya pun telah berusaha men-search kitab Perjanjian Lama yang berbahasa Indonesia di internet, khususnya yang berkaitan dengan pembahasan ini, namun tidak mendapatkannya. Jalan terakhir saya menggunakan rujukan saya ke kitab Perjanjian Lama edisi bahasa Arab dan Persia.

(Argumen Teks Penguat Terakhir) 

Namun begitulah kenyataannya di berbagai ayat-ayat suci al-Quran, pedoman primer orang yang mengaku sebagai muslim. Sepintas, sepertinya saya ini sangat berambisius sekali mengafirmasikan bahwa bukanlah Hawa yang telah membuat Nabi Adam as terusir dari surga, seperti mitos yang kita dengar selama ini.

Mitos yang tidak bersumber dari sumber-sumber primer dan sekunder kaum muslimin yang dapat dipertangggungjawabkan melalui jalur ilmiah. Sebagaimana pada artikel-artikel sebelumnya, kita telah membahas tentang tema ini dengan melihat pandangan al-Qur’an dan kitab Perjanjian Lama dengan membuat perbandingan di antara keduanya.

Konklusi dari kajian komparatif antara kedua kitab suci ini ialah bahwa dalam kitab Perjanjian Lama, Hawa (Eva) sebagai penyebab terusirnya Nabi Adam as dari surga. Sedang kitab suci al-Qur’an dengan tegas telah menafikan hal itu, dan menganggap Setan sebagai penyebab terusirnya mereka.


Ketika saya membuka-buka kembali kitab suci al-Quran, mata saya tertuju pada surat al-A’raf ayat 27 dimana dengan sangat gamblang menjelaskan tentang hal ini. Dalam ayat ini, Allah swt mengatakan bahwa Setanlah yang telah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga; “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia Telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.

Sesungguhnya kami Telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman”.
Al-Qur’an dengan sangat jelas mengatakan bahwa Setan-lah yang telah mengeluarkan ibu-bapa manusia yakni Adam as (dan Hawa) dari surga, bukan Hawa, ibu kaum manusia. Dan ketika kita dapati beberapa hadis-hadis –yang tidak ada jaminan kebenaran dan keterjagaannya dari pendustaan- yang sebagai sumber sekunder (pasca al-Quran) yang bertentangan dengan al-Quran yang dijamin keotentikannya dan keterjagaannya dari pendustaan, maka saya kira sepakat semua kelompok muslimin dalam menindaklanjuti hadis-hadis israiliyat semacam itu, membuangnya jauh-jauh dari ensiklopedia hadis Nabi saww.

[Euis Daryati, mahasiswi Pasca Sarjana jurusan Tafsir al-Qur’an]
http://quran.al-shia.org/id/tafsir/002/01.html